Wabah Ebola 2016 Vs 2018, Kenapa Ahli Optimistis Tragedi Tidak Akan Terulang?

Ahli optimis wabah ebola tidak terulang di 2018. Foto: thinkstock

Moslemcommunity.net - Virus Ebola pertama kali membuat dunia tertegun saat tahun 2016 lalu menunjukkan keganasannya membunuh puluhan ribu korban jiwa di Afrika Barat. Belakangan ada ancaman wabah virus kembali, namun kali ini para ilmuwan sudah bersiap untuk menghadapinya.

Dilaporkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ada puluhan kasus virus Ebola baru di Republik Demokratik Kongo. Karena tidak ingin mengulang tragedi maka beragam respons darurat diluncurkan dan para ahli optimis virus bisa ditangani.

Nah faktor apa saja yang membuat wabah Ebola di tahun 2016 dan 2018 berbeda? Berikut beberapa poinnya seperti dikuttip dari CNN, Kamis (31/5/2018):

1. Reaksi dunia

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1976 virus Ebola tidak pernah menjadi perhatian serius para peneliti. Oleh karena itu ketika kasus baru mulai bermunculan di Afrika Barat tahun 2014 lalu dunia minim memberikan respons.

Otoritas baru menyadari tingkat kegawatdaruratan wabah setelah korban berjatuhan hingga mayat memenuhi jalan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah pernyataan mengakui kegagalannya, lalai dalam menanggapi virus Ebola.

Nah di tahun 2018 dengan kemunculan kembali kasus-kasus baru Republik Demokratik Kongo langsung berkoordinasi dengan WHO melakukan upaya pencegahan wabah. Selain itu berbagai organisasi global juga ikut turun tangan membantu.

2. Vaksin

Setelah Ebola tahun 2016 lalu memakan korban hingga sekitar 11 ribu jiwa, para peneliti menyadari pentingnya kebutuhan vaksin untuk melawan virus ini. Beberapa pihak berusaha mengembangkan vaksin yang pada tahun 2018 ini sudah masuk tahap uji coba.

Karena kondisinya dianggap darurat WHO pun menggunakan vaksin eksperimental tersebut pada kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo. Total ada sekitar 4.000 vaksin yang disiapkan.

3. Isolasi

Tahun 2014-2016 saat wabah Ebola masih terjadi di tingkat desa tidak ada upaya untuk mengontrol penyebaran penyakit. Akhirnya virus berhasil menyebar sampai ke kota padat penduduk di mana kemunculan kasus dan korban baru langsung meroket.

Nah di Republik Demokratik Kongo kejadiannya hampir serupa namun kali ini otoritas langsung melakukan upaya isolasi. Tujuannya untuk menangani pasien agar bisa kembali sehat dilingkungan terkendali sehingga virus tidak bisa menginfeksi orang lain.

4. Pemahaman lebih dalam

Karena sebelumnya tidak pernah dipelajari detail, ilmuwan kewalahan menghadapi wabah Ebola tahun 2014-2016. Sejak saat itu beragam penelitian dilakukan untuk mengetahui dan memahami virus Ebola secara keseluruhan.

Total saat ini diketahui ada lima spesies virus Ebola di dunia. Pengetahuan tersebut penting untuk tahu bagaimana harus menghadapi wabah dari tiap spesies yang mungkin punya mekanisme berbeda.

5. Tenaga kesehatan berpengalaman

Karena tidak pernah tahu bagaimana harus menghadapi pasien Ebola, tenaga kesehatan pun jadi korban keganasan virus di wabah tahun 2014-2016 lalu. Beberapa kali media internasional mengabarkan ketika ada petugas yang kembali ke negaranya karena terinfeksi bahkan sampai meninggal saat bertugas.

Pengalaman mengajarkan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama sehingga pada wabah kali ini petugas lebih berhati-hati menangani pasien.

"Jadi kali ini mereka (tenaga kesehatan -red) sudah cukup berpengalaman bagaimana menghadapi wabah Ebola," kata dr Anthony Fauci dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Amerika Serikat. (detik.com)

[http://news.moslemcommunity.net]
Banner iklan disini