Modul Moderasi Beragama Untuk Anak Usia Dini Digaungkan, Ada Apa?

Ilustrasi: Abumirza.com

POJOKKOTA- Dilansir dari Antaranews, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta mengenalkan model parenting atau pola asuh kebangsaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi keluarga dalam menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalisme anak sejak usia balita. Untuk memperkenalkan dan merealisasikan program parenting kebangsaan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta menggandeng Kampung KB yang sudah ada di tiap kelurahan. Saat ini, pilot project dilakukan di satu kampung KB di tiap kelurahan, dengan fokus pelaksanaan di dua kampung KB yang berada di Kelurahan Notoprajan dan Sosromenduran.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta juga sudah menyiapkan modul yang disusun oleh akademisi dan psikolog yang diharapkan dapat menjadi panduan orang tua dalam menjalankan pola asuh berwawasan kebangsaan ke anak. Si Kumbang tersebut bisa dibawa orang tua saat pertemuan Bina Keluarga Balita dan bisa ditunjukkan saat anak masuk PAUD atau TK sehingga pengajar bisa mengetahui kemampuan anak. Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi yang membuka program Parenting Kebangsaan berharap program tersebut dapat melahirkan generasi muda yang memiliki karakter dan jiwa nasionalisme yang kuat. (Antaranews, 02/11/2021)

Salah satu modul berjudul “Membangun Karakter Moderat: Modul Pengetahuan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Madrasah RA-MI” diterbitkan oleh PKPPN IAIN Surakarta dan Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI setebal 116 halaman. Modul ini bertema moderasi beragama dan revolusi mental, dua tema yang menjadi strategi pembangunan karakter SDM Indonesia sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024. 

Tema ini kemudian terpilah ke dalam beberapa topik, misalnya pembangunan karakter moderat, pengenalan kebangsaan, berlaku adil kepada sesama, menjalin dan menjaga persaudaraan, bersikap santun dan bijak, serta menjadi pribadi inovatif, kreatif, dan mandiri. (kemenag.go.id, 3/7/2020).


Membangun Karakter Moderat Sejak Usia Dini, Ada apakah?
Anak adalah amanah sekaligus anugerah dari Allah Azza wa Jalla yang harus diarahkan sejak dini dengan hal-hal yang diperintahkan oleh Islam. Pembiasaan yang sesuai tuntunan Islam akan membentuk Syakhsiyah atau kepribadian Islam yang kokoh dengan landasan aqidah Islam. Yang tidak akan tercampur dengan hal-hal yang dilarang didalam Islam, tentu saja.

Tentu bukan tugas yang mudah, mengingat terbenturnya dengan berbagai faktor yang dihasilkan dari sistem Kapitalisme, sistem yang tidak sesuai fitrah manusia. Namun juga bukan tidak mungkin membentuk anak agar menjadi pribadi yang sholih, cerdas, cemerlang, percaya diri, dan tetap cinta tanah airnya.

Fitrah manusia adalah menghamba kepada Allah Swt. sepenuhnya karena manusia adalah makhluk terbatas yang membutuhkan Ilah (Tuhan) yang Mahaagung. Menjadi hamba yang “lurus” bermakna ‘beriman sepenuhnya kepada Allah Swt. dan bertakwa kepada-Nya’. Bukan setengah-setengah mengambil aturan-Nya yang manusia suka saja, lalu mengabaikan aturan lainnya. Bukan pula bersikap moderat yang cenderung mengambil jalan tengah. Pembentukan karakter moderat pada anak justru harus kita hindari. Sejak dini, kita harus mengajarkan anak mana hal yang baik dan buruk, benar dan salah, terpuji dan tercela. Anak harus paham cara bersikap baik, benar, dan terpuji. Bukan sebagai dogma atau paksaan, tetapi memang yang baik, benar, dan terpuji itulah yang mendatangkan kebaikan untuk hidupnya kelak.

Dari sini bisa kita nilai, pembentukan karakter moderat itu dalam rangka apa? Jika kita mencermati narasi moderasi, tampak ada kekhawatiran terkait ajaran ekstrem dan intoleran. Oleh sebab itu, kita perlu mendudukkannya secara proporsional.

Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap proporsional dalam segala hal. Menempatkan yang wajib sebagai wajib, Sunah sebagai Sunah, begitu pula yang mubah, makruh, serta haram. Perbuatan manusia sudah Allah Swt. atur dan nas-nasnya terdapat dalam Al-Qur’an, Sunah, ijmak, dan qiyas. Oleh karenanya, Islam bukanlah sumber ekstremisme dan radikalisme. Adapun jika terdapat manusia yang melanggar hukum syarak, itu adalah kesalahan manusianya, tidak bisa menggeneralisasi sebagai kesalahan Islam sebagai sistem aturan. Menuduh agama (Islam) sebagai sumber konflik adalah kesalahan besar. Perlu kita pahami pula, sejatinya, kampanye moderasi beragama hadir karena ketakutan terhadap Islam—sistem yang bisa tampil sebagai kekuatan nyata dalam menyelesaikan masalah kehidupan, baik pribadi hingga tataran negara atau pemerintahan. Padahal, jika kita meneliti lebih dalam, tidak perlu ada yang kita takuti dari syariat Islam karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, menjaga nyawa manusia, dan menyelamatkan manusia dari semua bentuk kerusakan. Wallahua'lam. (Ummu Hafidzah)


[pojokkota.beritaislam.org]

Posting Komentar untuk "Modul Moderasi Beragama Untuk Anak Usia Dini Digaungkan, Ada Apa?"

Banner iklan disini